Buku-buku itu berserakan di kamar kecil itu, sebagian tergeletak seperti tubuh-tubuh yang lelah, sebagian lagi bersandar pasrah di sudut dinding. Hatiku terketuk ketika mataku tertuju pada sebuah buku bertajuk Ibunda. Aku menariknya pelan, seperti menarik kenangan lama dari tempat persembunyiannya. 


Kubuka halaman demi halaman dengan hati-hati, seolah takut mengusik luka yang tersimpan di dalamnya. Di sela-sela kertas yang mulai menguning, kutemukan catatan tulisan yang menggetarkan hatiku, seperti seseorang yang gelisah melempari doa-doa ke langit.


Mendengar nama Pavel, aku juga mengenal mamanya. Wajahnya muncul jelas di ingatan, wajah perempuan yang hidup terlalu lama dalam penderitaan. 


Aku membayangkan kembali bagaimana tubuhnya menyusut oleh ketakutan, matanya cekung seolah menyimpan malam-malam panjang tanpa tidur, punggungnya sedikit membongkok menahan beban yang tak pernah ia pilih. Selama dua puluh tahun ia disiksa oleh suaminya sendiri lelaki yang pulang membawa lelah, marah, dan kekalahan dari tempat kerja.


Suaminya seorang buruh. Menjadi buruh memang penuh cobaan, tapi tak sedikit buruh dipaksa diam. Upah yang tak cukup, jam kerja yang panjang, penghinaan yang dibungkus perintah semua itu menumpuk seperti bara. 


Bara itu tak pernah sempat menjadi perlawanan, lalu padam di dalam dada, berubah menjadi amarah. Dan amarah itu dilampiaskan ke rumah, ke tubuh perempuan, ke anak yang tak tahu apa-apa. Begitulah Pavel tumbuh bersama ibunya, di bawah atap yang selalu bergetar oleh teriakan.


Bertahun-tahun mereka hidup dalam trauma ketakutan yang diwariskan dari satu hari ke hari berikutnya, kebencian yang tak sempat diberi nama. 


Ibunya belajar diam, belajar menerima, belajar memaafkan bahkan sebelum luka itu sembuh. Pavel belajar membenci kekerasan, meski ia belum tahu kata apa yang tepat untuk menyebutnya.


Begitulah kehidupan Pavel sebelum mengenal buku-buku. Sebelum ia mengenal kata “perlawanan”, sebelum ia menemukan bahwa penderitaan mereka bukan nasib pribadi, melainkan bagian dari sistem yang lebih besar. 


Ketika Pavel mulai membaca, dunia yang selama ini menindihnya perlahan terbuka. Ia membaca tentang buruh lain, tentang penderitaan yang serupa, tentang tangan-tangan yang sama-sama kasar oleh kerja, dan hati-hati yang sama-sama hancur oleh ketidakadilan. Di situlah benih itu tumbuh kesadaran yang kelak disebut orang sebagai komunisme.


Ibunya pada awalnya tak mengerti. Ia hanya melihat anaknya membawa pulang buku-buku, berdiskusi dengan kawan-kawan, berbicara tentang dunia yang asing baginya. Tapi pelan-pelan, melalui ketakutan dan cinta seorang ibu, ia ikut belajar. 


Ia mendengar, ia mengamati, ia mulai memahami bahwa kekerasan yang ia alami bukanlah kesalahannya. Bahwa penderitaan itu bukan takdir perempuan, melainkan kejahatan yang dilahirkan oleh kapitalisme oleh sistem kerja yang tak pasti, oleh negara yang berpihak pada pemilik modal, oleh rumah tangga yang dibangun di atas frustrasi dan kuasa.

Kejahatan kapitalisme itu merembat sampai ke ruang paling kecil keluarga. 


Perempuan dan anak menjadi korban paling awal dan paling lama. Kekerasan yang dialami perempuan sangat kompleks, datang bertubi-tubi, dimulai dari negara yang abai, dari tempat kerja yang menindas, lalu berakhir di tangan pasangan yang juga korban, namun memilih menjadi pelaku.


Dan di tengah semua itu, seorang ibu berdiri. Tubuhnya lemah, tetapi keberaniannya tumbuh bersama luka yang ia bawa. Seperti ibunda dalam buku itu, ia berjalan membawa selebaran, membawa keyakinan baru, membawa harapan bahwa dunia bisa diubah.  


saat itu, ia berjuang ketika menjdi korban dalam catatan kelam juga  saksi, pengingat, dan penopang perlawanan.


Aku menutup buku Ibunda itu perlahan. Kamar kecil itu kembali sunyi. Tapi sesuatu di dalam dadaku bergerak. kesadaran bahwa kisah Pavel dalam karya Maksim Gorky menjadi relevan, mengingat realitas pekerja yang dipaksa, beban yang menumpuk, dan sasaran kekerasan yang kerap menyasar perempuan. Aku tak membayangkan apa yang terjadi jika semua itu terus berlangsung. Perempuan kehilangan kepercayaan diri, kehilangan karier, kehilangan cinta. Karena hari-harinya adalah kekejaman yang tak pernah usai.


Cerita itu seperti hidup hidup kita, di rumah-rumah sempit, di tubuh perempuan yang terlalu lama diam. Dan buku-buku itu, yang berserakan tadi, mungkin sedang menunggu untuk kembali ku baca agar luka-luka lama tak terus diwariskan sebagai takdir.



Penulis

Hartati Balasteng

(Seorang Perempuan yang menginginkan perubahan yang revolusioner di mulai dari dapur).